Menjadi single parent memang tak selalu mudah, entah itu karena ditinggal mati suami atau karena cerai. Banyak hal yang berubah dan butuh penyesuaian diri. Banyak pula masalah yang muncul seiring perjalanan menjadi seorang single parent. Namun, bila Anda tahu apa yang harus Anda lakukan, sebetulnya tak selalu susah, kok. Kuncinya, selalu tempatkan urusan anak di urutan pertama. Jadikan anak sebagai prioritas. Apa saja yang harus Anda perhatikan?
1. Siapkan Mental Siapa pun tak mau menjadi single parent. Anda harus siap menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak-anak. Jadi, bila selama ini suami begitu perhatian atau bercanda dengan anak sepulang kerja, coba lakukan hal yang sama, sehingga meski tidak ada kehadiran sang ayah, anak masih memiliki Anda yang juga tak kalah mencurahkan kasih sayang.
2. Jaga Kesehatan Boleh saja bekerja keras, tetapi Anda juga harus menjaga kesehatan. Seringkali, saking asyiknya bekerja, sampai-sampai urusan kesehatan tak lagi diperhatikan. Jangan karena mengejar uang, Anda lalu tidak mempedulikan kondisi fisik. Sebab, selain diri Anda, anak-anak yang Anda cintai pun jadi kurang perhatian jika Anda jatuh sakit. Segeralah pergi ke dokter jika badan terasa tak enak. 3. Tahan Banting Menjadi single parent harus tahan banting. Tahan dari segala cobaan, ucapan, atau gosip yang tidak benar. Seringkali, posisi sebagai single parent memang menjadi santapan omongan tetangga kiri-kanan. Tak ada salahnya bersikap sedikit cuek, dan tidak terlalu ambil pusing. Apalagi jika selama ini sikap Anda tetap terjaga baik dan tidak neko-neko. Lama kelamaan, berita miring itu pun pasti akan hilang dengan sendirinya. 4. Tegar Sebagai single parent, Anda harus tegar dalam berbagai situasi. Bila selama ini Anda menyelesaikan permasalahan keluarga bersama suami, sekarang Anda harus menghadapinya sendiri. Juga, jangan mudah putus asa. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Boleh saja menangis saat menghadapi berbagai masalah, tetapi sebaiknya jangan berlarut-larut. Ingat, apapun yang Anda lakukan, akan menjadi perhatian anak. Jika Anda selalu tampak sedih, anak pun tentu akan bertanya-tanya. 5. Luangkan Waktu Sesibuk apa pun Anda, yang terpenting adalah mengutamakan anak. Anda bekerja membanting tulang bagi anak, tapi bila Anda tidak pernah punya waktu untuk anak, sia-sia saja usaha yang Anda lakukan selama ini. Yang terpenting, aturlah waktu seefisien mungkin. Kapan saatnya bekerja, dan kapan waktu bagi anak. Usahakan saat anak berada di rumah, Anda juga ada di sampingnya, sehingga komunikasi tetap terjalin. Jangan pernah menolak anak saat mereka minta dimanja atau diperhatikan, sesibuk dan seletih apa pun Anda. Ingat, kalau bukan pada Anda, kepada siapa lagi anak bisa bermanja-manja? 6. Terbuka Tak ada salahnya bersikap terbuka pada anak tentang posisi Anda sebagai orang tua tunggal, apalagi bila usia anak sudah di atas 12 tahun. Anak seusia ini biasanya sudah mulai bisa memahami. Nah, daripada anak mendengar dari orang lain tentang perceraian Anda dengan ayahnya, misalnya, lebih baik jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. Yang tak kalah penting, jangan pernah menjelekkan mantan suami pada anak-anak. Biarkan anak yang menilai, siapa ayahnya. Pasalnya, bila sebelumnya Anda sudah menjelekkan, anak tentu akan mempunyai pemikiran yang berbeda pada Anda. 7. Jangan Gegabah Jangan gegabah cepat-cepat mencari pengganti suami. Banyak hal yang harus Anda pertimbangkan jika ingin kembali memulai hidup baru. Bisa saja Anda sudah merasa cocok dengan calon Anda yang sekarang, tetapi apakah kecocokan itu juga ada pada sang anak? Yang utama, berikan waktu pada anak untuk juga mengenal lebih dekat pasangan Anda. Ingat, jangan karena Anda sudah terlalu cinta dan merasa tak bisa dipisahkan, lantas Anda tidak menggubris pendapat anak tentang pasangan Anda. Pikirkan masak-masak sebelum Anda memutuskan untuk menikah kembali. Anda pernah gagal, jadi jangan sampai gagal untuk yang kedua kalinya. 8. Nikmati Tak ada hal yang sulit jika Anda melakukannya dengan senang hati. Karena itu, cobalah nikmati peran sebagai single parent. Jika muncul masalah, anggaplah sebagai tantangan yang harus Anda selesaikan. Ajak anak untuk ikut bersama-sama menyelesaikan masalah itu. Misalnya jika Anda sedang mulai menabung untuk pendidikan anak, ajak anak untuk juga ikut menabung. 9. Silaturahmi Seringkali, begitu hubungan perkawinan putus, maka putus pula tali silaturahmi antara suami-istri. Merasa sudah tidak lagi punya hubungan satu sama lain, sehingga hubungan kekeluargaan yang selama ini terjalin pun putus dengan sendirinya. Tidak ada komunikasi, bahkan ada pula pasangan atau keluarga yang lantas jadi saling membenci. Ini tentu tak baik dan tidak mendidik anak. Anak pasti akan bertanya, "Kok selama ini yang saya kenal hanya keluarga Mama saja, mana keluarga Papa?" Jadi, meski sudah berpisah dengan suami, bahkan mungkin sudah menikah lagi, silaturahmi sebaiknya harus tetap jalan. Mungkin tidak bisa sedekat dulu lagi, tetapi minimal komunikasi harus tetap ada. Apalagi memutuskan hubungan anak dengan ayah/keluarga ayah.